Jakarta (KABARIN) - Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Mendukbangga) Wihaji mengingatkan orang tua dan masyarakat untuk mewaspadai praktik child grooming yang sering dibalut dengan perhatian dan kasih sayang palsu yang bisa membahayakan anak.
Peringatan ini disampaikan menanggapi fenomena child grooming yang makin ramai diperbincangkan setelah aktris Aurelie Moremans merilis buku memoirnya berjudul "Broken Strings" yang menceritakan pengalaman dirinya menjadi korban kekerasan.
"Tindakan manipulatif tersebut berbahaya karena dapat menjadi pintu masuk terjadinya kekerasan terhadap anak," kata Wihaji melalui akun Instagram resminya di Jakarta, Senin.
Wihaji menjelaskan, child grooming biasanya dimulai dengan memberi perhatian dan kesan kasih sayang kepada anak, namun lama-lama pelaku melakukan manipulasi agar anak bergantung dan patuh.
“Awalnya memang tidak terasa karena sifatnya manipulatif. Anak diberi perhatian, dibungkus kebahagiaan, lalu perlahan dicuci otaknya. Padahal itu hanya pintu masuk, dan ujungnya bisa sangat berbahaya," ujar Wihaji.
Ia menekankan, tahapan-tahapan dalam child grooming sering kali sudah direncanakan dengan rapi oleh pelaku. Jika masyarakat tidak waspada, hal ini bisa berujung pada kekerasan terhadap anak.
"Jangan sampai dengan bungkus kasih sayang dan perhatian yang berkedok kebahagiaan, justru terjadi kekerasan pada anak. Kekerasan terhadap anak, dalam bentuk apapun dan dengan alasan apapun, tidak boleh dilakukan," paparnya.
Selain itu, Wihaji juga menekankan pentingnya edukasi bagi seluruh masyarakat agar perilaku anak-anak dan masyarakat bisa berkembang ke arah yang lebih baik.
"Salah satu peran penting Kemendukbangga adalah memberikan edukasi kepada masyarakat untuk memastikan perilaku anak-anak dan masyarakat Indonesia ke arah yang lebih baik. Ayo kita bersama-sama saling mengingatkan. Ada hal-hal terkait perubahan perilaku yang perlu kita perhatikan agar menjadi lebih baik," tutup Wihaji.
Editor: M. Hilal Eka Saputra Harahap
Copyright © KABARIN 2026